Welcome to My Blog



Do’a seorang muslim untuk saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan).Di sisinya ada malaikat yang bertugas.Setiap kali dia mendo'akan kebaikan untuk saudaranya,malaikat tersebut berkata : "Aamiin, dan engkau akan mendapatkan yang sama dengannya." [HR. Muslim 2733] Dengan mendo'akan kebaikan untuk saya,Insyaa Allah Anda akan mendapat kebaikan yang sama.

Sabtu, 23 April 2022

 

Analisis Teks “Recount”

 

A success Story

 

Yesterday afternoon Frank Hawakins was telling me about his experiences as a young man.

Frank is now the head of a very large company, but as a boy he used to work in a small shop. It was hos job to repair bicycles and at that time he used to work fourteen hours a day. He saved money for years and in 1938 he bought a small work-shop of his own.

During the war, Frank used to make spare parts for aeroplanes. At that time he had two helpers. By the end of the war, the small work shop had become a large factory which employed seven hundred and twenty-eight people.  

Frank smiled when he remembered his hard early years and the long road to success. He was still smiling when the door opened and his wife came in. She wanted him to repair their son’s bicycle!

 

A Success Story

 

Title

Yesterday afternoon Frank Hawakins was telling me about his experiences as a young man.

 

Orientation

Frank is now the head of a very large company, but as a boy he used to work in a small shop. It was hos job to repair bicycles and at that time he used to work fourteen hours a day. He saved money for years and in 1938 he bought a small work-shop of his own.

Series of Events

During the war, Frank used to make spare parts for aeroplanes. At that time he had two helpers. By the end of the war, the small work shop had become a large factory which employed seven hundred and twenty-eight people.  

 

Frank smiled when he remembered his hard early years and the long road to success. He was still smiling when the door opened and his wife came in. She wanted him to repair their son’s bicycle!

 

 

Reorientation

 

(The text taken from Practice and Progress: 83)

 

 Contoh Teks RECOUNTS Islami

Materi: Teks Recount berbentuk Biografi

Ibnu Sina (Avicenna)

This great scientist was born in around 980 A.D in the village of Afshana, near Bukhara which is also his mother’s hometown. His father, Abdullah an advocate, was from Balkh which is now a part of Afghanistan. Ibn Sina received his early education in his home town and by the age of ten he became a Quran Hafiz. He had exceptional intellectual skills which enabled him to overtake his teachers at the age of fourteen.

During the next few years he devoted himself to Muslim Jurisprudence, Philosophy and Natural Science and studied Logic. Ibn Sina was an extremely religious man. When he was still young, Ibn Sina was highly baffled by the work of Aristotle on Metaphysics so much so that he used to leave all the work and pray to Allah to guide him. Finally after reading a manual by a famous philosopher al-Farabi, he found the solutions to his difficulties.

At the age of sixteen he dedicated all his efforts to learn medicine and by the time he was eighteen gained the status of a reputed physician. During this time he was also lucky in curing Nooh Ibn Mansoor, the King of Bukhhara, of an illness in which all the renowned physicians had given up hope. On this great effort, the King wished to reward him, but the young physician only got consent to use the King’s exclusive library of the Samanids.

On his father’s death, when Ibn Sina was twenty-two years old, he left Bukhara and moved to Jurjan near Caspian Sea where he lectured on logic and astronomy. Here he also met his famous contemporary Abu Raihan al-Biruni. Later he travelled to Rai and then to Hamadan, where he wrote his famous book Al-Qanun fi al-Tibb. Here he also cured Shams al-Daulah, the King of Hamadan, for severe colic.

From Hamadan, he moved to Isfahn, where he finished many of his epic writings. Nevertheless, he continued to travel and the too much mental exertion as well as political chaos spoilt his health. The last ten or twelve years of his life, he spent on the service of Abu Ja’far ‘Ala Addaula, whom he accompanied as physician and general literary and scientific consultant. He died during June 1037 A.D and was buried in Hamedan, Iran.

During his life, Ibn Sina has delivered approximately 450 books. His book includes one of his earliest and quite phenomenal. The book by Ibn Sina Islamic leaders that was quite a major impact on the world is ash-Shifa '. Ash-Shifa 'is a book of his work which contains a variety of information about health and treatment techniques. This book is considered too large and heavy. As a result the book is reviewed only by certain circles.

 

http://www.famousscientists.org/avicenna/

http://dayahlibrary.blogspot.com/2012/01/biography-of-ibnu-sina-muslim-leader.html

 

Answer these questions based on the text above. Use short answers.

 

1.       When and where was Ibnu Sina born?

2.       How old was he when he became a Qur’an Hafiz?

3.       What did he do when he was baffled by the work of Aristotle on metaphysics?

4.       Why was Ibnu Sina lucky at the age of eighteen?

5.       What are the contents of Ash-Shifa?

6.       What is the main idea of the third paragraph?

7.       How many books has Ibnu Sina delivered during his life?

8.       This book is considered too large and heavy.” ( last paragraph). The underlined word refers to……

Senin, 25 November 2013


  1. Kesempurnaan seseorang adalah jika dirinya sempurna dan menyebabkan orang lain sempurna. Kesempurnaan itu dicapai dengan cara meningkatkan kualitas potensi ilmiah dan amaliahnya. Kebaikan kualitas ilmiah seseorang dengan iman, sedangkan kualitas kekuatan amaliah dengan amal saleh. Adapun menyempunakan orang lain adalah mengajarnya dengan penuh kesabaran dan mewasiatkan kepada orang tersebut untuk bersabar dalam mencari ilmu dan beramal. (Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah)
  2. Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang dengannya Allah mengutusku adalah seperti air hujan yang jatuh ke tanah. Di antara tanah tersebut ada yang baik menerima air, maka tumbuhlah darinya rerumputan dan pepohonan. Dan tanah itu ada yang keras yang menghimpun air, sehingga dengannya Allah memberikan manfaat kepada manusia, yaitu untuk minum, memberi minum ternak, dan bercocok tanam. Dari tanah itu ada juga yang berupa rawa, tidak menahan air dan tidak pula menumbuhkan tanaman. Demikianlah perumpamaan orang-orang dihadapan agama yang diturunkan Allah SWT. Diantara mereka ada yang memahaminya, maka Allah memberikan manfaat kepadanya sehingga dia tahu dan mengamalkannya. Ada juga orang yang tidak peduli kepada agama tersebut dan tidak menerima petunjuk Allah SWT, yang dengannya aku diutus."(HR Bukhari dan Muslim).
  3. Rasulullah saw. membagi manusia menjadi empat bagian. Pertama, orang-orang yang beriman dan selalu membaca Al-Qur'an. Mereka ini adalah orang-orang yang terbaik. Kedua, orang-orang beriman namun tidak membaca Al-Qur'an. Mereka ini di bawah tingkatan golongan pertama. Kedua golongan ini adalah orang-orang yang berbahagia.  
  4. Dan Rasulullah saw. membagi orang-orang menderita menjadi dua golongan.  Pertama, orang-orang yang membaca Al-Qur'an tanpa keimanan. Mereka adalah orang  munafik. Kedua, orang-orang yang tidak beriman dan tidak mendapatkan cahaya Al- Qur'an.
  5. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy'ari r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, "Perumpamaan orang-orang mukmin yang membaca Al-Qur'an adalah seperti buah atrujah (limau), rasanya enak dan baunya harum. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur'an adalah seperti buah kurma, rasanya enak namun tidak memiliki aroma. Dan, perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur'an adalah seperti tumbuhan wangi-wangian, baunya harum namun pahit rasanya. Sedangkan, perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur'an adalah seperti buah Hanzhalah (sejenis labu), rasanya pahit dan tidak berbau." (HR Bukhari dan Muslim)
  6. Kebutuhan hamba terhadap ilmu adalah ibarat kebutuhan tanah terhadap air hujan. Seandainya mereka tidak memiliki ilmu, maka mereka sama dengan tanah yang tidak tersiram air hujan.
  7. Imam Ahmad bin Hambal berkata, "Orang-orang lebih membutuhkan ilmu daripada kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman. Karena dalam sehari mereka membutuhkan makanan dan minuman sekali atau dua kali, sedangkan mereka membutuhkan ilmu dalam setiap hembusan nafas."
  8. Allah menyerupakan ilmu yang diturunkan kepada Rasul-Nya dengan air yang diturunkan dari langit, karena masing-masing dari keduanya memberikan kehidupan dan kebaikan kepada seluruh manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat. Kemudian Allah SWT menyerupakan hati manusia dengan lembah. Hati yang lapang mampu menampung banyak ilmu, bagaikan sebuah lembah lebar yang menampung air yang melimpah. Sedangkan, hati yang sempit menampung sedikit ilmu seperti lembah kecil yang hanya menampung sedikit air. (Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah)  
  9. Rasulullah saw. bersabda,"Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang-orang yang mengikuti mereka tanpa mengurangi pahala mereka sama sekali. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa sebesar dosa orang-orang yang mengikutinya dan hal itu tidak mengurangi dosa mereka sama sekali." (HR Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi)
  10. "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian. Sesungguhnya Allah SWT, para malaikat, seluruh makhluk yang di langit dan di bumi, hingga semut di lubangnya dan ikan paus di dalam laut bersalawat kepada para pengajar kebaikan." (HR Tirmidzi)
  11. Ibnu Abbas berkata, "Ada dua jenis ulama dari umat ini. Pertama, seseorang yang dikaruniai ilmu pengetahuan, lalu ia mengajarkannya kepada umat manusia tanpa mengambil bayaran dari ilmunya tersebut dan tidak menjualnya dengan apa pun. Merekalah yang mendapatkan doa dari burung yang terbang di langit, ikan paus di dalam laut, binatang melata yang merangkak di permukaan bumi, dan para malaikat pencatat amal. Kedua, seseorang yang diberikan ilmu pengetahuan oleh Allah SWT, dan ia tidak mengajarkannya kepada hamba-hamba-Nya melainkan dengan mengambil pemberian atas apa yang ia ajarkan, dan ia menjual ilmunya tersebut. Maka, pada hari kiamat orang jenis kedua ini akan berjalan dalam keadaan terikat oleh tali dari neraka.
  12. Al-Walid bin Muslim meriwayatkan dari Khalid bin Yazid, dari Usman bin Aiman, dari Abu Darda' bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang pergi untuk mencari ilmu maka Allah SWT membukakan kepadanya jalan menuju surga dan para malaikat pun membentangkan sayap untuk menaunginya. Dan para malaikat di langit serta ikan paus di laut bershalawat untuknya. Keutamaan seorang ulama atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas semua bintang. Ulama adalah pewaris para nabi, para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil ilmu, maka dia telah mendapatkan bagian yang banyak (dari warisan itu). Kematian seorang ulama merupakan musibah yang tidak bisa diobati, lubang yang tidak dapat disumbat, dan bintang yang hancur. Kematian satu kabilah lebih ringan daripada kematian seorang alim." (HR Baihaqi) 
  13. Tegaknya agama adalah karena ditopang, dihias, dan diterangi oleh para ulama dan ahli ibadah. Apabila para ulama dan ahli ibadahnya hilang, maka hilanglah agama, sebagaimana langit yang dihias dan diterangi oleh bulan dan bintang-gemintang. (Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah)  
  14.  Manfaat ilmu dan agama yang dimiliki seseorang lalu diajarkan kepada orang lain adalah kekal. Apabila terputus dari pemiliknya, maka kebaikannya akan tetap sampai kepada pemiliknya untuk selamanya, sedangkan hal-hal lainnya akan hilang dan sia-sia. (Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah)

Rabu, 10 Juli 2013



Orang yang beriman mengatur seluruh hidupnya sesuai dengan Al Qur’an dan berjuang untuk melaksanakan dengan hati-hati setiap hari apa yang telah dia baca dan pelajari dari ayat-ayat Al Qur’an. Dalam segala perbuatannya sejak bangun di pagi hari sampai tidur di malam hari, dia berniat untuk berpikir, berbicara, dan bertindak berdasarkan ajaran Al Qur’an. Allah menunjukkan dalam Al Qur’an bahwa pengabdian seperti ini menjadi ciri utama seluruh kehidupan orang beriman. (Harun Yahya)

Seringkali kita merasa enggan untuk melakukan pekerjaan padahal pekerjaan itu bermanfaat dan berpahala. Sebaliknya seringkali kita melakukan pekerjaan dengan senang dan bersemangat padahal pekerjaan itu tidak ada manfaatnya bahkan mungkin mengundang dosa.

Pekerjaan yang baik dan berpahala biasanya terasa begitu berat untuk dilakukan, sedangkan pekerjaan yang sia-sia biasanya begitu ringan untuk dilakukan.

Kata seorang ulama: Sekecil apapun harta yang dibelanjakan di jalan yang tidak diridhoi Allah termasuk mubadzir (pemborosan), sebaliknya sebesar apapun/bahkan sampai habis sekalipun harta yang dibelanjakan di jalan yang diridhoi Allah tidak termasuk kepada pemborosan. Allahu ‘alam.


“Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak pula amal besar menjadi kecil gara-gara niat.” (Ibnu Rajab dalam Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, ”Tahun ibarat sebatang pohon sedangkan bulan-bulan adalah cabang-cabangnya, jam-jam adalah daun-daunnya dan hembusan nafas adalah buah-buahannya. Barang siapa yang pohonnya tumbuh di atas kemaksiatan maka buah yang dihasilkannya adalah hanzhal (buah yang pahit dan tidak enak dipandang, pent) sedangkan masa untuk memanen itu semua adalah ketika datangnya Yaumul Ma’aad (kari kiamat).

Sesungguhnya cinta yang hakiki dan membuahkan hasil adalah cinta yang tetap tegar menghadapi berbagai hambatan, tantangan, dan gangguan. Sedangkan, cinta yang mensyaratkan (menuntut) kebahagiaan, kenikmatan, kesenangan, dan terpenuhinya keinginan sang pencinta dari yang dicinta, maka ini bukanlah cinta yang sejati. (Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah)
Orang yang tersesat di dunia ini, maka dia akan lebih tersesat lagi di akhirat nanti. Sedangkan, penderitaan di dunia ini tidak akan terjadi JIKA IA TIDAK TERSESAT di dunia dan mengikuti petunjuk-Nya. Petunjuk tersebut terwujud bagi mereka yang mempunyai keyakinan yang kokoh, hati yang tenang, dan iman yang hakiki. Sehingga, ia merasakan manisnya iman, dan memperoleh kebahagiaan, kegembiraan serta kenikmatan dengan iman tersebut. Adapun hati yang selalu disirami dengan nur keimanan, maka ia akan bercahaya dan menjadi teguh, karena semua itu ibarat makanan, minuman dan obat penawar, bahkan kehidupan baginya. Apabila hati telah dipenuhi oleh semua yang dibutuhkan, maka ia memperoleh kebahagiaan yang paling tinggi, kebaikan yang paling agung, dan kelezatan yang paling besar. (Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah)
Orang yang melakukan amal saleh pasti memperoleh kehidupan yang baik sesuai dengan keimanan dan amal perbuatannya. Sedangkan, orang-orang yang berjiwa kerdil dan bodoh, pasti keliru dalam memahami kehidupan ini. Mereka menyangka bahwa kehidupan di dunia ini hanya untuk bersenang-senang dengan makanan, minuman, pakaian, hubungan badan, jabatan, harta dan kebanggaan menaklukkan musuh, yang semua itu hanyalah tuntutan syahwat belaka. Padahal tidak ada bedanya antara manusia dengan binatang dalam semua itu, bahkan bisa jadi "jatah" untuk binatang lebih banyak daripada bagi manusia dalam hal-hal tersebut. Karenanya, orang yang hanya menyukai dan merasa bahagia dengan hal-hal yang juga disenangi oleh binatang, maka mereka itulah orang-orang yang merugi, yang tidak akan mendengar seruan para rasul. (Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah)
Ustad Yusuf Mansur: “Jagalah anak-anak kita dari tanggal-tanggal yang rawan”. Tanggal yang dimaksud tersebut adalah 1 Januari (Tahun Baru) dan 14 Februari (Hari Valentine). Pada tanggal tersebut banyak umat Islam yang tergeleincir imannya serta tergelincir kepada perbuatan maksiat dan sia-sia (mubadzir).

Senin, 24 September 2012



Kata-Kata Mutiara 4

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. 7:96)

Orang yang berfikir adalah orang yang sadar bahwa ia akan mati, dan oleh karena itu dia akan mempersiapkan bekal untuk hidupnya sesudah mati.

Kebanyakan manusia tidak berpikir sebagaimana seharusnya mereka berpikir dan tidak mengembangkan sarana dan potensi berpikir mereka.(Harun Yahya: 14, Bagaimana Seorang Muslim Berfikir)

Ketidakmampuan dalam mengendalikan pikiran ke arah yang baik akan mengakibatkan seseorang
seringkali merasa khawatir atau mengalami peristiwa-peristiwa yang sebenarnya belum terjadi seolah-olah telah terjadi dalam benaknya, dan terseret dalam kesedihan, kekhawatiran dan ketakutan. (Harun Yahya)

Kemalasan adalah sebuah faktor yang menghalangi kebanyakan manusia dari berpikir. (Harun Yahya)

Hanya mereka yang mau berpikir yang mampu melihat dan kemudian memahami tanda-tanda kebesaran Allah, serta keajaiban dari obyek dan peristiwa-peristiwa yang Allah ciptakan. Mereka mampu mengambil sebuah kesimpulan berharga dari setiap hal, besar ataupun kecil, yang mereka saksikan di sekeliling mereka. (Harun Yahya: 25, Bagaimana Seorang Muslim Berfikir)


Jangan jadikan kebahagiaan dunia sebagai tujuan. Tapi jadikanlah dia sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki, yakni kebahagiaan akhirat.


Apapun yang akan kita lakukan, pikirkanlah dahulu manfaat dan mudharatnya baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

Orang tua adalah manusia yang paling berhak mendapatkan dan merasakan ‘budi baik’ seorang anak, dan lebih pantas diperlakukan secara baik oleh si anak, ketimbang orang lain.

Semakin besar ketidaktahuan kita terhadap sesuatu adalah kesempatan bagi kita untuk terus belajar

Ada saatnya kita harus bekerja sama namun ada saatnya pula kita harus mampu berdiri sendiri


Pendidikan anak dalam Islam, menurut Sahabat Ali bin Abitahalib ra, dapat dibagi menjadi 3 tahapan/ penggolongan usia:
  1. Tahap BERMAIN (“la-ibuhum”/ajaklah mereka bermain), dari lahir sampai kira-kira 7 tahun.
  2. Tahap PENANAMAN DISIPLIN (“addibuhum”/ajarilah mereka adab) dari kira-kira 7 tahun sampai 14 tahun.
  3. Tahap KEMITRAAN (“roofiquhum”/jadikanlah mereka sebagai sahabat) kira-kira mulai 14 tahun ke atas.
(dikutip dari penjaga Qur’an)

Setiap detik waktu yang kamu gunakan untuk belajar di masa mudamu adalah tabungan yang akan kamu nikmati hasilnya di masa tuamu. (Dedeng Sukmana)

Kita sering berdecak kagum pada komputer canggih buatan manusia, tapi jarang mengagumi “komputer” ciptaan yang Maha Sempurna, Allah SWT yakni tubuh kita sendiri dan segala proses yang terjadi di dalamnya. Sesungguhnya tubuh kita jauh lebih hebat daripada komputer yang paling rumit sekalipun.

Seseorang  manusia yang tidak melaksanakan kewajibannya kepada Tuhan adalah manusia yang paling tidak tahu berterima kasih.

Teknologi Informasi dan Komunikasi semacam Fb dan lainnya dapat menjadi sarana untuk memperoleh pahala atau dosa yang berlipat ganda. Mana yang mau kita pilih? The choice is in our hands! (dedeng)

Kalau kita tidak bisa membuat orang lain senang, paling tidak jangan sampai kita membuat orang lain sedih. Kalau kita tidak bisa memberi sesuatu pada orang lain, setidaknya jangan sampai kita mengambil milik orang lain.

Who dares to teach must never cease to learn. –John Cotton Dana